Arsip Kategori: Khas Daerah

Masyarakat Pangkut dan PT.SINP-PBNA Gelar Budaya Adat Dayak Tomun

dy

KabarKobar, Pangkalan Bun – Masyarakat Pangkut Kecamatan Arut Utara Kabupaten Kotawaringin Barat dan Managemen PT.SINP-PBNA yang merupakan anak perusahaan dari PT.Astra Agro Lestari menggelar ritual beberosih benua adat Dayak Tomun, Rabu kemarin (19/04) di menara SINP-PBNA.

Hadir dalam acara tersebut beberapa administratur yang ada di PT.Astra Agro Lestari (AAL) Area Borneo 1, Demang Arut Utara, Lurah Pangkut, dan Darsani yang merupakan tokoh masyarakat penggagas acara tersebut.

Tokoh Masyarakat Pangkut, Darasani mengatakan bahwa kegiatan adat dayak tomun ini dilaksanakan setahun sekali, kegiatan ini bertujuan untuk melestarikan budaya, baik bagi warga Arut Utara pada umumnya, sekaligus mengenalkan budaya adat dayak tomun kepada warga pendatang.

“Kami juga mengenalkan kepada investor, agar pengusaha juga biaa mengenal adat dan budaya, dengan istilah dimana kaki dipijak disitulah langit di junjung,” ujar Darsani.

Begitu juga dengan Comunity Developmen Area Manager PT.Astra Agro Lestari Borneo 1, Nasri Ikhwan, yang mendukung pelestarian budaya yang ada di sekitar perkebunan PT.AAL B1, dan tidak hanya mendukung saja tapi dibarengi dengan dukungan infrastruktur, seperti pembuatan rumah adat dan tempat adat lainnya.

“Kami ingin dekat dengan warga disini, dengan begitu, silaturahmi antara kami selaku investor dengan warga juga terjalin dengan baik,” ujar Nasri Ikhwan.

Kegiatan diawali dengan potong pantan, tarian adat dayak tomun, dan adat pengangkatan saudara. (One)

 

 

Sumber : KobarNews
Iklan

Upacara Adat Dayak Manyanggar

Upacara Adat Dayak Manyanggar. Istilah Manyanggar berasal dari kata “Sangga”. Artinya adalah batasan atau rambu-rambu. Upacara Manyanggar Suku Dayak kemudian diartikan sebagai ritual yang dilakukan oleh manusia untuk membuat batas-batas berbagai aspek kehidupan dengan makhluk gaib yang tidak terlihat secara kasat mata.
Ritual Dayak bernama Manyanggar ini ditradisikan oleh masyarakat Dayak karena mereka percaya bahwa dalam hidup di dunia, selain manusia juga hidup makhluk halus. Perlunya membuat rambu-rambu atau tapal batas dengan roh halus tersebut diharapkan agar keduanya tidak saling mengganggu alam kehidupan masing-masing serta sebagai ungkapan penghormatan terhadap batasan kehidupan makluk lain. Ritual Manyanggar biasanya digelar saat manusia ingin membuka lahan baru untuk pertanian, mendirikan bangunan untuk tempat tinggal atau sebelum dilangsungkannya kegiatan masyarakat dalam skala besar.

Melalui Upacara Ritual Manyanggar, apabila lokasi yang akan digunakan oleh manusia dihuni oleh makhluk halus (gaib) supaya bisa berpindah ke tempat lain secara damai sehingga tidak mengganggu manusia nantinya.