Arsip Kategori: Pojok Kota

Rumah Jabatan Bupati Kobar Ludes Dibakar Massa

Rumah jabatan bupati Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah, ludes dibakar oleh massa pendukung salah satu pasangan calon bupati yang dinyatakan kalah. Mereka adalah massa pendukung Bupati Kobar terpilih, Sugianto Sabran-Eko Soemarno (Sukses), yang kemudian dinyatakan kalah oleh Mahkamah Kontitusi.

“Situasi Kota Pangkalan Bun sekarang sangat mencekam,” kata salah seorang warga Pangkalan Bun, Marjukianto, di Pangkalan Bun, Kamis (29/12/2011). Hingga sekarang, massa pendukung masih berkumpul di sejumlah titik di pusat perkotaan.

Aksi pembakaran rumah jabatan bupati Kobar itu dipicu kekecewaan kepada pemerintah pusat yang akan melantik bupati terpilih yang dimenangkan MK, yakni Ujang Iskandar-Bambang Purwanto (UJI-BP), Jumat besok.

Massa pendukung Bupati Kobar terpilih, Sugianto Sabran-Eko Soemarno, yang kecewa pada pemerintah pusat menggelar demonstrasi sejak Rabu (28/12/2011). Kemudian, pada Kamis (29/12/2011) sekitar pukul 12.00 WIB massa membakar rumah jabatan bupati Kobar yang berada di jalan Pangeran Antasari, Pangkalan Bun.

Menurut Marjukianto, sebelum membakar rumah jabatan bupati Kobar, massa yang emosi sempat memecahkan kaca-kaca bangunan di sekitarnya. Massa leluasa melakukan aksi pembakaran karena pada waktu itu tidak satu pun aparat keamanan yang melakukan penjagaan. Angin yang bertiup kencang ditambah konstruksi bangunan yang terbuat dari kayu membuat api dengan cepat membakar seluruh bangunan rumah jabatan bupati Kobar.

“Kami menduga aksi pembakaran tersebut dilakukan sebagai bentuk kemarahan massa pendukung Bupati Kobar terpilih, yakni Sugianto Sabran-Eko Soemarno, yang kemudian dinyatakan kalah oleh MK,” katanya.

Aparat gabungan dari Kepolisian Daerah Kalimantan Tengah dan Kepolisian Resor Kobar yang terlambat datang di tempat kejadian tidak dapat berbuat banyak. Kelompok massa pendukung Sugianto Sabran-Eko Soemarno membubarkan diri dan meninggalkan tempat kejadian setelah puluhan aparat kepolisian tiba di lokasi.

Sumber :ANT

KOTA MANIS PANGKALAN BUN

Pangkalan Bun adalah kota paling prospektif di Kalteng, saat ini ada penerbangan langsung dari Jakarta dengan pesawat Jet jenis BAE (penumpang sekitar 100 orang), aku perhatikan load pesawat Jakarta-Pangkalan Bun cukup tinggi setiap harinya.` Ada juga penerbangan ke Semarang, ke Banjarmasin (transit di Sampit) dan ke Pontianak (transit di Ketapang) menggunakan pesawat jenis ATR (isi kira2 50 penumpang), pelabuhan penumpang ada di Kota Kumai (sekitar 12 km dr Pkl Bun) dg kapal Pelni (penumpang 1.500 orang) dan juga dg kapal ferry roro (roll on roll off) yang selain membawa penumpang juga mampu mengangkut kendaraan roda empat. Kapal Senopati Nusantara adalah ferry jenis roro yg tenggelam beberapa waktu yg lalu, berangkat dr Pelabuhan Kumai. Kondisi perkembangan transportasi tsb merupakan indikator bahwa aktivitas ekonomi di Pangkalan Bun sangat besar. Selama 15 tahun saya tinggal di pangkalan bun, jarang saya menemui pengemis, pengamen atau becak. Lokasinya yg sangat dg Jawa maka tidak heran jika bupati Pangkalan Bun (Ujang Iskandar) pernah berseloroh ke saya bahwa Pangkalan Bun adalah Semarang Utara.

Pedagang di Pasar umumnya adalah pendatang dari Jawa (pedagang pakaian dan kelontong), sedangkan pedagang sayuran mayoritas dari Madura. Tidak heran jika bahasa jawa dan madura banyak didengar di pasar-pasar. Penduduk setempat terbagi dalam dua kelompok besar yakni Melayu dan Dayak. Untuk yang di sekitar perkotaan maupun yang bertempat tinggal ditepi sungai umumnya adalah suku Melayu, suku melayu umumnya beragama Islam. Sedangkan suku Dayak umumnya tinggal di daerah pedalaman (kecuali yang sdh berpendidikan tinggi umumnya membaur di kota). Suku Dayak umumnya beragama Hindu Kaharingan dan sebagian lain Kristen. Ada juga beberapa yg sdh menganut Islam. Nama-nama kelurahan di Pangkalan Bun pun hampir identik dengan mayoritas suku yang tinggal di situ; misalnya Kel. Madurejo (Madura), Kel. Mendawai (Melayu Mendawai), Kel. Raja (Melayu Banjar), kel. Sidorejo (Jawa), Pasir Panjang (Dayak), dan Kampung Baru (campuran).
Tempat wisata yg dominan adalah Pantai Kubu dan Taman Nasional Tanjung Puting (suaka orangutan). Ada juga wisata budaya seperti Istana Kuning, Masjid dan Makam Kiai Gede di Kotawaringin Lama, rumah dan budaya Dayak, dll.

Untuk memberi gambaran yg komprehensif mengenai Pangkalan Bun perlu waktu lama, jika tidak maka kesimpulan kita tak ubahnya komentar tiga orang buta yang memegang seekor gajah dari bagian tubuh yg berlainan. Disarankan untuk sering-sering ke Pangkalan Bun. Enak sekali lho Makan ikan bakar di Simpang Tiga Kumai, RM Ruhama, RM Kagonangan (asal budget cukup), RM Prambanan, RM Meranti, RM Kita Jua. Ikan Lais Bakar, sambal terasi, sayur terong asam, glegggggg……

>>>>hmmm pengen tau lebih tentang pangkalan bun jangan lupa comment hehehehe…trims bro…