Arsip Kategori: Teman

SAHABAT SEJATI

Kata sahabat adalah sebuah kata yang menandakan bahwa manusia adalah makhluk sosial namun demikian besar arti sebenarnya dari sebuah persahabatan sehingga membuatnya begitu berarti. kadang sahabat dapat membuat hari-hari yang kita lalui benar-benar indah dan memiliki banyak cerita, namun kadang juga sahabat membuat kenangan terburuk untuk kita sepanjang hidup.
tetapi kadang kala juga sahabat bisa berakhir indah atau bisa juga buruk, saya mungkin punya sebuah persepsi bahwa persahabatan tidak boleh diakhiri dengan sebuah kata cinta, dan persepsi itu dah menjadi prinsip semenjak saya mengenal arti persahabatan.
untuk saya sahabat adalah sahabat, dan sahabat terbaik adalah sahabat yang tau kapan dia atau kita membutuhkannya.
Namun, alangkah sulitnya untuk mendapatkan sahabat sejati sebab di dunia yang fana ini terlalu banyak persahabatan dan/atau persaudaraan semu karena berdiri di atas pondasi yang rapuh, tolok ukur yang keliru, tolok ukur berupa kepentingan-kepentingan duniawi bahkan dibangun atas dasar kemaksiatan.

Dengan demikian, maka tak heran di zaman sekarang ini kita sering menemukan orang yang berteman/bersahabat hanya karena ada maunya saja dan/atau ketika dalam keadaan senang saja namun ketika keinginannya sudah tercapai dan/atau ketika temannya sedang dalam kesusahan maka tidak segan-segan dia meninggalkan temannya itu karena dianggap (secara duniawi) sudah tidak penting, tidak menguntungkan dan tidak memerlukannya lagi.

Yang Dibilang Sukses itu…

Benarlah kalau kesuksesan itu sulit diukur. Orang yang memiliki mobil pribadi, tanah dimana-mana, rumah bertingkat dua, bisnis berkembang pesat, istri cantik, anak cerdas,belum mau dikatakan sukses.

Ada orang berpendidikan tinggi dengan prestasi yang mentereng dan dihormati kaum ilmuan juga tidak ingin disebut sukses. Salah satu alasan mereka tidak mau dikatakan sukses karena masih ada hal-hal yang belum mereka capai dan belum merasa puas dengan hasil yang didapat selama ini.

Alih-alih mengukur kesuksesan orang lain, diri sendiri juga belum mau dikatakan sukses. Ya iyalah, mobil pribadi belum ada, rumah pribadi juga tidak, pacar juga belum punya, pekerjaan juga belum menjamin hari tua. Apakah kalau itu semua dicapai sudah dikatakan sukses? Aku menjawabnya dengan ragu. Belum tentu. Karena sifat dasar manusia ini gak pernah merasa puas, sampai kapanpun.

Andai bukit barisan itu menjadi tumpukan emas,dan kita diberi satu bukit emas, tentu tidak akan puas hingga memiliki semuanya.

Sukses menurut orang belum tentu sukses menurut kita, begitu pula sebaliknya dikarenakan tidak jelas alat ukurnya atau punya alat ukur yang berbeda-beda.

Terkadang makna sukses juga dimaknai sederhana. Merantau ke negeri orang, melanjutkan pendidikan dibilang sukses. Padahal yang berkata belum tahu kondisi sebenarnya bagaimana sakitnya hidup diperantauan, bagaimana kuliah dengan biaya pas-pasan. Dan orang hanya bisa mengatakan “sukses dia ya…”

Seorang teman, sebut saja namanya S. Ia selalu menyindirku dengan bertanya apakah ada lowongan pekerjaan buat dia. Aku menganggapnya sindiran karena ia cukup baik dengan pekerjaannya sekarang, jenjang karir dan posisi yang cukup strategis ia duduki. Dan ia meminta pekerjaan padaku yang bekerja di LSM, dikontrak dengan gaji yang tak seberapa. (dasar! gak bersyukur)

Selain itu, ia selalu bercerita tentang seluk beluknya mendapatkan pekerjaan hingga bisa pada posisi ueeenaak sekarang.

“Padahal aku cuma lulusan SMA loh, kok bisa ya aku kerja di sini bla bla bla…”

Aku yang lulusan S1 jadi merasa tersindir lagi. Namun begitu aku mengacungkan jempol tangan dan kaki buat dia 🙂 Semua memang didapat dengan kerja keras dan mungkin kerja dia lebih keras daripada aku.

Kini posisinya semakin menanjak dan akan ditempatkan di kantor pusat perusahaan yang berada di wilayah Jakarta. Aku tau setelah ia berkirim sms padaku.

Terlepas dari tipenya yang suka menyindir, menurutku dia itu salah satu contoh manusia yang sukses dengan pekerjaannya. Perkara puas tidak puas ia bekerja biarlah itu menjadi urusannya 🙂 Karena menurutku selama ini ia puas dan menjadi ambisinya untuk bisa berkantor di Jakarta dan saat ini ia berhasil (sukseskah itu..?)

Ah, kepalaku jadi makin gatal. Apa begitu yang dibilang sukses… Ada saran?